Pneumonia
pada Lansia
Pneumonia adalah proses infeksi
akut yang mengenai jaringan paru – paru (alveoli). Pneumonia merupakan penyebab
kematian karena infeksi di seluruh dunia, terutama pada lanjut usia (lansia).
Tanda-tanda pneumonia antara lain
batuk, demam tinggi , dan adanya napas cepat ataupun tarikan dinding dada
bagian bawah ke dalam. Pneumonia pada lanjut usia susah terdiagnosis
karena sering asimptomatik. Lansia sering hanya mengeluh badan terasa
tidak enak, jarang mengeluhkan tanda dan gejala penyakit. Jika menemukan
salah satu tanda berikut, lebih baik segera di bawa ke dokter atau rumah sakit
guna pemeriksaan lebih lanjut.
Ada beberapa faktor penyebab pneumonai antara lain
penurunan aktivitas fisik, penyakit penyerta, proses penuaan, dan status
gizi kurang. Pneumonia pada lansia biasanya disebabkan oleh bakteri patogen Pneumococcus,
gram negatif basil (Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa),
Staphylococcus aureus, dan Haemophilus influenzae.
Ada
beberapa cara pencegahan yang dapat dilakukan agar tidak terkena pneumonia
antara lain dengan metode prediksi, yaitu CRB-65, CURB-65, dan Pneumonia
severity index (PSI). Metode prediksi ini dapat mendeteksi kelompok risiko
rendah dan membantu membuat keputusan memondokkan atau memulangkan pasien di
unit gawat darurat. Perbedaan mortalitas pada kelompok risiko rendah sedikit.
Pasien kelompok risiko rendah pada CURB-65 hanya 12,6%, sehingga PSI dan CRB-65
dapat lebih berguna untuk mendeteksi pasien yang perlu rawat jalan. Metode
prediksi CURB-65, PSI dan CRB-65 ini mempunyai nilai perkiraan positif yang
rendah untuk menentukan pasien risiko tinggi, sehingga kurang baik untuk
menentukan indikasi rawat inap. Metode CRB-65 lebih sederhana dan cepat karena
tidak memerlukan parameter laboratorium, sehingga lebih dapat diterapkan di
unit gawat darurat. Pneumonia severity index (PSI), CURB-65, dan CRB-65
mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang sama bagus dalam memprediksi beratnya
dan mortalitas pneumonia komunitas pada usia lanjut di rumah sakit. Metode
CRB-65 dan CURB-65 lebih dapat diterapkan karena jumlah poin yang dinilai lebih
sedikit sehingga memudahkan petugas kesehatan dalam menerapkannya. Metode
CRB-65 tidak memerlukan parameter laboratorium sehingga bisa digunakan dengan
cepat di instalasi gawat darurat.
Yang kedua adalah dengan cara imunisasi pneumonia Pada bulan Januari 2009, Komite Bersama Vaksinasi dan
Imunisasi (JVCI) telah mengusulkan bahwa vaksin konjugasi pneumokokus (serotipe
7-11) dapat memberikan hasil yang menjanjikan lebih besar dari vaksin
polisakarida pneumokokus, yang telah digunakan dalam program vaksinasi tua di
seluruh dunia). Penggunaan vaksin 23-valent sebagai booster setelah injeksi
vaksin konjugasi dapat meningkatkan effectiveness. Meskipun manfaat dari
imunisasi pneumonia menggunakan vaksin 23-valent masih diperdebatkan, WHO
mengeluarkan ketentuan bahwa pneumonia vaksinasi pada lansia cukup efektif untuk melindungi
lansia yang sehat terhadap penyakit invasif (pneumonia dengan komplikasi
seperti meningitis, septikemia, dan pneumococcal pneumonia). Hal ini didukung oleh
analisis distribusi serotipe, yang menunjukkan bahwa persentase terbesar dari
penyakit invasif masih disebabkan oleh 23-valent serotype.
Efek samping
dari vaksinasi pneumonia meliputi lokal (20-30%) atau sistemik (<1%) reaksi.
Honkanen dkk melaporkan bahwa 93% subjek mengalami lokal kemerahan kulit tanpa
nyeri setelah empat hari (284 subyek dalam kelompok yang menerima vaksinasi
influenza saja dan 441 subyek dalam kelompok dengan influenza dan vaksinasi
pneumokokus). Demam (37.50C) ditemukan pada 10 subyek dengan vaksinasi
influenza dan ada mata pelajaran lagi yang telah menerima influenza dan
vaksinasi pneumokokus (24 subyek) yang memiliki demam. Kesimpulannya, imunisasi
ganda mengakibatkan lebih terlokalisasi efek samping dan demam; Namun efek
samping biasanya ringan dan akan diselesaikan tanpa pengobatan.
Indikasi pada vaksin ini adalah. Subjek lanjut usia yang sehat (> 65 tahun), terutama mereka yang
tinggal di panti jompo. Lansia yang
membutuhkan vaksinasi diulang hanya individu dengan gangguan imunitas (pasien
dengan diabetes, gagal ginjal kronis dan penyakit hati kronis) dan individu
yang memiliki komorbiditas atau mereka yang telah menerima vaksinasi pertama
mereka pada usia kurang dari 65 tahun. Kontra indikasinya adalah Riwayat alergi / hipersensitivitas terhadap komponen vaksin (s). vaksin
ini memiliki efek samping, yaitu Kemerahan
kulit lokal, tanpa nyeri atau demam. Dan cara mengatasi efek samping
itu adalah dengan menggunakan 500 mg
parasetamol dapat diberikan untuk mengurangi nyeri lokal atau demam.
Tata
laksana pneumonia pada umumnya adalah dengan pemberian antibiotik, oksigen,
nebulisasi, cairan dan nutrisi yang adekuat, inotropik, ventilasi mekanis, dan
terapi suportif lainnya; sedangkan untuk pencegahan dapat dilakukan dengan
vaksinasi. Pemberian zink merupakan alternatif tambahan dalam tata laksana
pneumonia.
Zink pada
manusia diperoleh hanya dari makanan. Sumber utama zink dalam makanan adalah
produk hewani dan makanan laut (sea food). Zink diabsorpsi melewati
membran basolateral enterosit di duodenum dan jejunum diperantarai oleh transporter
termasuk zinc transport protein 1 (Zn TP-1), kemudian melewati
sirkulasi portal di hepar untuk sampai ke jaringan perifer. Lebih dari 60%
keseluruhan zink tubuh (total body zinc) terdapat di otot skelet,
sekitar 20% terdapat di tulang dan 10% sisanya terdapat di sumsum tulang,
hepar, paru dan kulit. Di dalam plasma hanya terdapat 0,1% zink tubuh. Rambut
mengandung konsentrasi zink yang relatif tinggi, demikian juga kelenjar prostat
dan semen mengandung konsentrasi zink yang tinggi. Zink tidak disimpan dalam tubuh sehingga
dibutuhkan asupan teratur untuk menjaga kecukupan status zink tubuh. Kebutuhan
zink manusia berubah berdasarkan keadaan fisiologis.
Pada lansia
dengan pneumonia komunitas, gejala respiratorik jarang dan demam tidak dijumpai
pada 40- 60% kasus, sedangkan gangguan kesadaran dijumpai pada 20-50% kasus.
Gejala dan tanda lain yang dapat dijumpai adalah menggigil, produksi sputum
purulen, nyeri dada pleuritik, nyeri kepala, mialgia, syok, dan ronkhi. Pada
lansia dengan nursing home acquired pneumonia, sering
dijumpai gejala dan tanda yang tidak spesifik seperti gangguan kesadaran,
inkontinensia, lemah menyeluruh, dan penurunan nafsu makan. Penurunan kesadaran
bisa merupakan satusatunya manifestasi klinis yang muncul dan ditemukan pada
21-73% pasien. Takipnea merupakan indikator sensitif adanya infeksi saluran
napas bawah pada lansia dan dijumpai pada 70% kasus.
Beberapa
peneliti telah melaporkan rendahnya status zink atau menurunnya asupan zink
pada lansia. Rendahnya status zink berkontribusi menyebabkan disregulasi
respons imun terkait usia dan suplementasi zink menunjukkan perbaikan fungsi
sel T pada lansia. Karena itu, defisiensi zink diindikasikan sebagai faktor
risiko defisiensi imun dan kerentanan terhadap infeksi sehingga muncul
hipotesis bahwa suplementasi zink dapat menurunkan insidens infeksi pada
lansia. Berbagai penelitian suplementasi zink pada lansia menunjukkan
peningkatan konsentrasi zink pada system sirkulasi dan peningkatan status imun.
Dalam
sebuah uji klinis acak tersamar ganda, dengan kontrol plasebo (N=81), lansia
(>65 tahun) dalam suatu institusi yang mendapat suplementasi mikronutrien
non-vitamin mengandung zink 20 mg dan selenium 100 μg (sebagai zink sulfat dan
selenium sulfi da) mengalami penurunan signifi kan frekuensi infeksi saluran
napas. Dalam penelitian intervensi acak, tersamar ganda, plasebo-kontrol
lainnya yang lebih besar (N=725), suplementasi zink dan selenium dosis rendah
(zink sulfat 20 mg dan selenium sulfi da 100 μg) secara signifkan meningkatkan
respons imun humoral lansia (usia 65-103 tahun) setelah vaksinasi. Penelitian
tersebut juga melaporkan bahwa angka tanpa infeksi saluran napas lebih tinggi
pada lansia yang mendapat suplementasi tersebut selama 2 tahun akan tetapi
dalam kedua penelitian itu, kontribusi nutrien lain yang juga terkandung dalam
suplementasi tersebut tidak dapat disingkirkan.
Penelitian
Prasad dkk. Menunjukkan suplementasi zink elemental 45 mg/hari dalam bentuk
glukonat selama 12 bulan pada sejumlah kecil lansia (usia 55-87 tahun) secara
signifi kan menurunkan insidens semua infeksi, termasuk infeksi saluran napas,
akan tetapi efeknya pada pneumonia tidak dapat dievaluasi karena rendahnya
angka kejadian. konsentrasi zink serum normal pada lansia di panti berhubungan
dengan penurunan insidens dan durasi pneumonia, dan penurunan penggunaan dan
durasi terapi antimikroba sehingga dipikirkan suplementasi zink untuk menjaga
konsentrasi zink serum tetap normal dapat menurunkan insidens dan morbiditas
pneumonia pada lansia di panti. Defisiensi zink juga diduga merupakan faktor
risiko pneumonia pada lansia.

