Selasa, 03 November 2015




Pneumonia pada Lansia


Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru – paru (alveoli). Pneumonia merupakan penyebab kematian karena infeksi di seluruh dunia, terutama pada lanjut usia (lansia).
Tanda-tanda pneumonia antara lain batuk, demam tinggi , dan adanya napas cepat ataupun tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Pneumonia pada lanjut usia susah terdiagnosis karena sering asimptomatik. Lansia sering hanya mengeluh badan terasa tidak enak, jarang mengeluhkan tanda dan gejala penyakit. Jika menemukan salah satu tanda berikut, lebih baik segera di bawa ke dokter atau rumah sakit guna pemeriksaan lebih lanjut.                            
           Ada beberapa faktor penyebab pneumonai antara lain penurunan aktivitas fisik, penyakit penyerta, proses penuaan, dan status gizi kurang. Pneumonia pada lansia biasanya disebabkan oleh bakteri patogen Pneumococcus, gram negatif basil (Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa), Staphylococcus aureus, dan Haemophilus influenzae.  
             Ada beberapa cara pencegahan yang dapat dilakukan agar tidak terkena pneumonia antara lain dengan metode prediksi, yaitu CRB-65, CURB-65, dan Pneumonia severity index (PSI). Metode prediksi ini dapat mendeteksi kelompok risiko rendah dan membantu membuat keputusan memondokkan atau memulangkan pasien di unit gawat darurat. Perbedaan mortalitas pada kelompok risiko rendah sedikit. Pasien kelompok risiko rendah pada CURB-65 hanya 12,6%, sehingga PSI dan CRB-65 dapat lebih berguna untuk mendeteksi pasien yang perlu rawat jalan. Metode prediksi CURB-65, PSI dan CRB-65 ini mempunyai nilai perkiraan positif yang rendah untuk menentukan pasien risiko tinggi, sehingga kurang baik untuk menentukan indikasi rawat inap. Metode CRB-65 lebih sederhana dan cepat karena tidak memerlukan parameter laboratorium, sehingga lebih dapat diterapkan di unit gawat darurat. Pneumonia severity index (PSI), CURB-65, dan CRB-65 mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang sama bagus dalam memprediksi beratnya dan mortalitas pneumonia komunitas pada usia lanjut di rumah sakit. Metode CRB-65 dan CURB-65 lebih dapat diterapkan karena jumlah poin yang dinilai lebih sedikit sehingga memudahkan petugas kesehatan dalam menerapkannya. Metode CRB-65 tidak memerlukan parameter laboratorium sehingga bisa digunakan dengan cepat di instalasi gawat darurat. 
         Yang kedua adalah dengan cara imunisasi pneumonia Pada bulan Januari 2009, Komite Bersama Vaksinasi dan Imunisasi (JVCI) telah mengusulkan bahwa vaksin konjugasi pneumokokus (serotipe 7-11) dapat memberikan hasil yang menjanjikan lebih besar dari vaksin polisakarida pneumokokus, yang telah digunakan dalam program vaksinasi tua di seluruh dunia). Penggunaan vaksin 23-valent sebagai booster setelah injeksi vaksin konjugasi dapat meningkatkan effectiveness. Meskipun manfaat dari imunisasi pneumonia menggunakan vaksin 23-valent masih diperdebatkan, WHO mengeluarkan ketentuan bahwa pneumonia vaksinasi pada lansia cukup efektif untuk melindungi  lansia yang sehat terhadap penyakit invasif (pneumonia dengan komplikasi seperti meningitis, septikemia, dan pneumococcal pneumonia). Hal ini didukung oleh analisis distribusi serotipe, yang menunjukkan bahwa persentase terbesar dari penyakit invasif masih disebabkan oleh 23-valent serotype.
Efek samping dari vaksinasi pneumonia meliputi lokal (20-30%) atau sistemik (<1%) reaksi. Honkanen dkk melaporkan bahwa 93% subjek mengalami lokal kemerahan kulit tanpa nyeri setelah empat hari (284 subyek dalam kelompok yang menerima vaksinasi influenza saja dan 441 subyek dalam kelompok dengan influenza dan vaksinasi pneumokokus). Demam (37.50C) ditemukan pada 10 subyek dengan vaksinasi influenza dan ada mata pelajaran lagi yang telah menerima influenza dan vaksinasi pneumokokus (24 subyek) yang memiliki demam. Kesimpulannya, imunisasi ganda mengakibatkan lebih terlokalisasi efek samping dan demam; Namun efek samping biasanya ringan dan akan diselesaikan tanpa pengobatan.
Indikasi pada vaksin ini adalah. Subjek lanjut usia yang sehat (> 65 tahun), terutama mereka yang tinggal di panti jompo. Lansia yang membutuhkan vaksinasi diulang hanya individu dengan gangguan imunitas (pasien dengan diabetes, gagal ginjal kronis dan penyakit hati kronis) dan individu yang memiliki komorbiditas atau mereka yang telah menerima vaksinasi pertama mereka pada usia kurang dari 65 tahun. Kontra indikasinya adalah Riwayat alergi / hipersensitivitas terhadap komponen vaksin (s). vaksin ini memiliki efek samping, yaitu Kemerahan kulit lokal, tanpa nyeri atau demam. Dan cara mengatasi efek samping itu adalah dengan menggunakan 500 mg parasetamol dapat diberikan untuk mengurangi nyeri lokal atau demam.                   
Tata laksana pneumonia pada umumnya adalah dengan pemberian antibiotik, oksigen, nebulisasi, cairan dan nutrisi yang adekuat, inotropik, ventilasi mekanis, dan terapi suportif lainnya; sedangkan untuk pencegahan dapat dilakukan dengan vaksinasi. Pemberian zink merupakan alternatif tambahan dalam tata laksana pneumonia.
Zink pada manusia diperoleh hanya dari makanan. Sumber utama zink dalam makanan adalah produk hewani dan makanan laut (sea food). Zink diabsorpsi melewati membran basolateral enterosit di duodenum dan jejunum diperantarai oleh transporter termasuk zinc transport protein 1 (Zn TP-1), kemudian melewati sirkulasi portal di hepar untuk sampai ke jaringan perifer. Lebih dari 60% keseluruhan zink tubuh (total body zinc) terdapat di otot skelet, sekitar 20% terdapat di tulang dan 10% sisanya terdapat di sumsum tulang, hepar, paru dan kulit. Di dalam plasma hanya terdapat 0,1% zink tubuh. Rambut mengandung konsentrasi zink yang relatif tinggi, demikian juga kelenjar prostat dan semen mengandung konsentrasi zink yang tinggi.  Zink tidak disimpan dalam tubuh sehingga dibutuhkan asupan teratur untuk menjaga kecukupan status zink tubuh. Kebutuhan zink manusia berubah berdasarkan keadaan fisiologis.
Pada lansia dengan pneumonia komunitas, gejala respiratorik jarang dan demam tidak dijumpai pada 40- 60% kasus, sedangkan gangguan kesadaran dijumpai pada 20-50% kasus. Gejala dan tanda lain yang dapat dijumpai adalah menggigil, produksi sputum purulen, nyeri dada pleuritik, nyeri kepala, mialgia, syok, dan ronkhi. Pada lansia dengan nursing home acquired pneumonia, sering dijumpai gejala dan tanda yang tidak spesifik seperti gangguan kesadaran, inkontinensia, lemah menyeluruh, dan penurunan nafsu makan. Penurunan kesadaran bisa merupakan satusatunya manifestasi klinis yang muncul dan ditemukan pada 21-73% pasien. Takipnea merupakan indikator sensitif adanya infeksi saluran napas bawah pada lansia dan dijumpai pada 70% kasus.
Beberapa peneliti telah melaporkan rendahnya status zink atau menurunnya asupan zink pada lansia. Rendahnya status zink berkontribusi menyebabkan disregulasi respons imun terkait usia dan suplementasi zink menunjukkan perbaikan fungsi sel T pada lansia. Karena itu, defisiensi zink diindikasikan sebagai faktor risiko defisiensi imun dan kerentanan terhadap infeksi sehingga muncul hipotesis bahwa suplementasi zink dapat menurunkan insidens infeksi pada lansia. Berbagai penelitian suplementasi zink pada lansia menunjukkan peningkatan konsentrasi zink pada system sirkulasi dan peningkatan status imun.
Dalam sebuah uji klinis acak tersamar ganda, dengan kontrol plasebo (N=81), lansia (>65 tahun) dalam suatu institusi yang mendapat suplementasi mikronutrien non-vitamin mengandung zink 20 mg dan selenium 100 μg (sebagai zink sulfat dan selenium sulfi da) mengalami penurunan signifi kan frekuensi infeksi saluran napas. Dalam penelitian intervensi acak, tersamar ganda, plasebo-kontrol lainnya yang lebih besar (N=725), suplementasi zink dan selenium dosis rendah (zink sulfat 20 mg dan selenium sulfi da 100 μg) secara signifkan meningkatkan respons imun humoral lansia (usia 65-103 tahun) setelah vaksinasi. Penelitian tersebut juga melaporkan bahwa angka tanpa infeksi saluran napas lebih tinggi pada lansia yang mendapat suplementasi tersebut selama 2 tahun akan tetapi dalam kedua penelitian itu, kontribusi nutrien lain yang juga terkandung dalam suplementasi tersebut tidak dapat disingkirkan.
Penelitian Prasad dkk. Menunjukkan suplementasi zink elemental 45 mg/hari dalam bentuk glukonat selama 12 bulan pada sejumlah kecil lansia (usia 55-87 tahun) secara signifi kan menurunkan insidens semua infeksi, termasuk infeksi saluran napas, akan tetapi efeknya pada pneumonia tidak dapat dievaluasi karena rendahnya angka kejadian. konsentrasi zink serum normal pada lansia di panti berhubungan dengan penurunan insidens dan durasi pneumonia, dan penurunan penggunaan dan durasi terapi antimikroba sehingga dipikirkan suplementasi zink untuk menjaga konsentrasi zink serum tetap normal dapat menurunkan insidens dan morbiditas pneumonia pada lansia di panti. Defisiensi zink juga diduga merupakan faktor risiko pneumonia pada lansia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar